Senpi Anggota Din Minimi Dipotong

Senpi Anggota Din Minimi Dipotong

LHOKSUKON - Sebanyak 10 pucuk senjata api (senpi), 8 pucuk di antaranya milik anggota Nurdin Ismail alias Din Minimi yang sudah menjadi terpidana dalam kasus kepemilikan senpi ilegal, dimusnahkan dengan cara dipotong di Mapolres Aceh Utara, Selasa (9/1). Selain senpi, ratusan amunisi juga dimusnahkan dengan cara dibuang ke laut bersama senpi yang dipotong dengan menggunakan mesin.

Pemusnahan itu disaksikan langsung oleh Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata, Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf, Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon Abdul Wahab SH dan mewakili Kodim 0103 Aceh Utara Rusman, bersama Brimob Detamsen B Jeulikat. Senpi itu dimusnahkan atas putusan Pengadilan Negeri Lhoksukon terhadap barang bukti dari para terdakwa.

Masing-masing senpi yang dimusnahkan adalah; enam pucuk milik terpidana Darkani alias Rungkom (35) warga Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, yang divonis lima tahun dalam kasus tersebut. Ia ditangkap pada 10 April 2015 di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Senjata tersebut adalah tiga pucuk senpi AK 56, satu pucuk senpi jenis RPD, senjata Laras pendek jenis FN, dan pelontar jenis GLM.

Selain itu juga ada 9 magazen, senpi AK, RPD model rantang dan pistol, kemudian ratusan amunisi. Selanjutnya sepucuk senpi AK-56, bersama satu magazen dan amunisi 30 butir, dari terpidana Muhammad Nasir alias Si Det (27), warga Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara. Dia divonis lima tahun penjara pada 2016. Si Det ditangkap polisi saat kontak tembak di kawasan Sigli pada 22 Mei 2015.

Selanjutnya sepucuk senpi AK-56 bersama magazen dan seratusan amunisi milik terpidana Faisal alias Komeng (38), asal Desa Seuneubok Aceh Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Ia Divonis lima tahun penjara pada 7 Maret 2016 di Pengadilan Negeri Lhoksukon. Komeng dilumpuhkan tim Polda Aceh pada 11 Juli 2015 di rumahnya.

Amunisi lain yang dimusnahkan berasal dari terpidana Marsuddin alias Doyok serta Irwandi alias Kobra, yang juga divonis lima tahun penjara dalam kasus tersebut. “Selain senjata yang dimusnahkan, ada ratusan amunisi yang terkumpul dari para terpidana. Senjata ini dari Darkani alias Rungkhom, kemudian Faisal alias Komeng, Muhammad Nasir dan juga dari terpidana lainnya,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata kepada Serambi, kemarin. Kapolres Aceh Utara juga menyebutkan sudah bertemu dengan Din Minimi saat pilkada.

Menurut Kapolres, senjata tersebut berasal dari suatu kelompok dan dari invidu yang terlibat dalam berbagai jenis kasus. “Sampai sekarang masih ada senjata api di Aceh Utara. Saya ada peta itu dan sudah saya sampaikan ke Panglima saya, Bapak Kapolri,” katanya. Senjata api selama ini digunakan untuk berbagai jenis kejahatan.

Dua senpi lagi yang dimusnahkan milik Jailani (35), asal Desa Pulo U Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, yang divonis 18 bulan penjara pada 2 November 2017. Ia sebelumnya ditangkap dalam dugaan kasus narkoba, tapi polisi tidak menemukan barang buktinya. Dua senpi tersebut adalah jenis FN Colt MK series VI kaliber 9 milimeter Arcansan Siracuse buatan Amerika Serikat dan sepucuk senjata api jenis revolver dengan nomor registrasi 796117.

Senpi tersebut diperoleh terpidana ketika masa konflik dulu dari Lambak (Ramli) yang sudah tewas dalam penyergapan di Biram Rayeuk, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, pada 2008 lalu. Dia ditangkap pada 6 September 2017, sedangkan senpi ditemukan dalam kandang kambing di Desa Rambot, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.


kutip (aceh.tribunnews.com)